BERUBAH DIANTARA PERUBAHAN I

KASIH KARUNIA MEMBUAT KITA BERUBAH

TERGILA-GILA PADA YESUS

KEHIDUPAN YANG BERBUAH

GOD's Perfect Time - Waktu Sempurnanya Tuhan

God's Perfect Time

Waktu Sempurnanya Tuhan



Jacob's love for her, so she said: "I want to work for you seven years for Rachel, the younger son was." (Genesis 29:18)


Have you ever met someone in a meeting and something sparks flying at the time? You pay attention to not only color but also the man's eyes sparkle in his eye that seems to invite you to explore that person deeper. That is what happened between Jacob and Rachel. Genesis 29:17 says that Rachel is so captivating in appearance and also beautiful. Jacob fell in love so deep on Rachel until he was willing to work for the girl's father for seven years just to marry her.


If you're faced with a situation of Jacob, would you work for seven years for the one you love? Just think back to what you do seven years ago. Do you work at the same job as you work today? Attending the same church? Gathered by the same person?. Our lives changed a lot over the last seven years, is not it?


Imagine what Rachel must feel. He found the man she wanted to marry and then have to be around him often during the next seven years without being able to marry. He must have struggled with doubts about whether they will marry. Then, when the time finally came, he might have suffered devastation when he discovered that his father has been deceiving the man she loved with a married man dreams of his own sister, Lea.


What Rachel may not understand at the time was that God ultimately brings the Savior to the world through the descendants of blood between Jacob and Leah. Jesus is the offspring of the marriage based on lies - at least on a global level - but God has bigger plans. Rachel Jacob eventually married in God's best time.


God authored the events in our life to serve His glory. Like Rachel, we do not know when the Lord for our future, but we can believe that just as God knows what He did for Rachel, she also knew what He did for our lives.



Digging Deeper Genesis 29:18

1. Have you ever fallen in love with someone it's just God telling you to wait for marriage?
2. Have you ever asked about the timing of God? Explain ...
3. What do you do during the waiting period?
4. Have you ever wondered about the big picture? That God is at work making up the events in your life for His glory? Or you even more focused on yourself? Explain ...
5. How does this verse can change your life path in dealing with relationships in the future if God tells you to wait for marriage?

*******

Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." (Kejadian 29:18)

Pernahkah kamu menemui seseorang dalam suatu pertemuan dan sesuatu percikan terbang saat itu? Kamu memperhatikan bukan hanya warna mata orang itu namun juga kilauan di matanya yang tampaknya mengundang kamu untuk mengeksplorasi orang itu lebih dalam lagi. Itulah yang terjadi antara Yakub dan Rahel. Kejadian 29:17 mengatakan bahwa Rahel begitu menawan dalam penampilan dan juga cantik. Yakub jatuh cinta begitu dalam pada Rahel hingga ia bersedia bekerja buat ayah sang gadis selama tujuh tahun hanya untuk menikahinya.

Jika kamu dihadapkan pada situasi Yakub, maukah anda bekerja selama tujuh tahun untuk seorang yang kamu cintai? Coba pikirkan kembali apa yang kamu kerjakan tujuh tahun yang lalu. Apakah kamu bekerja pada pekerjaan yang sama seperti pekerjaan kamu saat ini? Menghadiri gereja yang sama? Berkumpul dengan orang yang sama?. Kehidupan kita berubah banyak selama tujuh tahun terakhir, bukankah begitu?

Bayangkan apa yang Rahel harus rasakan. Dia menemukan pria yang dia ingin nikahi dan kemudian harus sering berada disekelilingnya sepanjang tujuh tahun berikutnya tanpa bisa menikahinya. Dia pasti berjuang dengan kesangsian tentang apakah mereka akan menikah. Kemudian, ketika waktu akhirnya datang, dia mungkin saja mengalami kehancuran ketika menemukan bahwa ayahnya telah menipu pria yang dicintainya dengan menikahkan pria idamannya pada saudara perempuannya sendiri, Lea.

Apa yang Rahel mungkin tidak mengerti pada saat itu adalah bahwa Tuhan pada akhirnya membawa Juruselamat pada dunia melalui darah keturunan antara Yakub dan Lea. Yesus adalah keturunan dari pernikahan yang didasarkan atas kebohongan - paling tidak pada tingkatan yang mendunia - namun Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Rahel pada akhirnya menikahi Yakub dalam waktu terbaiknya Tuhan.

Tuhan mengarang peristiwa dalam kehidupan kita untuk menyajikan kemuliaanNya. Seperti halnya Rahel, kita tidak tahu waktu Tuhan untuk masa depan kita, namun kita dapat mempercayai bahwa seperti halnya Tuhan tahu apa yang sedang Dia kerjakan untuk Rahel, Dia juga tahu apa yang Dia kerjakan bagi hidup kita.

Menggali Lebih Dalam Kejadian 29:18

1. Apakah kamu pernah jatuh cinta pada seseorang hanya saja Tuhan mengatakan padamu untuk menunggu pernikahan?

2. Pernahkah kamu menanyakan tentang waktuNya Tuhan? Jelaskan..

3. Apa yang kamu lakukan selama periode penantian?

4. Pernahkah kamu berpikir tentang gambaran besarnya? Bahwa Tuhan sedang bekerja mengarang peristiwa dalam kehidupan kamu untuk kemuliaanNya? Atau anda justru lebih terfokus pada diri sendiri? Jelaskan...

5. Bagaimana ayat ini bisa mengubah jalan hidup kamu dalam menangani hubungan di masa depan jika Tuhan mengatakan pada kamu untuk menunggu pernikahan

*******

Song of Solomon 8:6a

Close your heart to every love but mine; hold no one in your arms but me. Love is as powerful as death

1 Corinthian 15: 54b – 55

Jesus has conquered the death!

..then shall be brought to pass the saying that is written, Death is swallowed up in victory. O death, where is thy sting? O grave, where is thy victory?

Kidung Agung 8:6a

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut...

1 Korintus 15 : 54b – 55

YESUS telah mengalahkan maut!

..maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?

By:GF. Taking from the Cloves Community.

APAKAH DIA UNTUKKU



Memilih pasangan hidup memang harus hati-hati. Bibit bobot bebet bukan hanya sekedar nasehat tidak penting dari orang tua. Itu benar-benar sesuatu yang harus dipertimbangkan. Tapi ada beberapa hal sederhana yang bisa membantu anda dalam pendekatan awal untuk bisa mempertimbangkan apakah orang ini layak diperjuangkan untuk menjadi kandidat pasangan anda kedepan nanti.

1. Bagaimana reputasinya? Tidak selamanya mimpi "untuk mengubah seorang yang liar menjadi orang yang baik hati" itu bisa menjadi kenyataan. Karena itu jika reputasi orang yang anda sukai itu sangat buruk di luar sana, anda sebaiknya berhati-hati dan berpikir dua kali.

2. Kenali setiap percakapan dengannya. Dalam percakapan itu, yang penting anda ketahui ialah apakah ia seorang "pecinta diri sendiri" atau bukan. Jika ia tipe yang selalu fokus pada dirinya ketimbang pada anda, ini tanda kurang baik, terutama jika anda ingin serius dengannya di kemudian hari.

3. Ketahui sejarah percintaannya. Apakah orang ini terkenal sebagai si tukang gonta ganti pacar? Jika mantan pacarnya ada 12 padahal umurnya baru 23 tahun, anda benar-benar harus hati-hati, karena itu berarti dia bermasalah dengan satu kata yang berjudul ‘komitmen'. Bisa-bisa anda hanya akan menjadi "pacar nomor 13" untuknya.

4. Apakah anda nyaman bersamanya? Ada orang yang anda sukai tapi membuat anda sendiri tidak nyaman. Mungkin karena bahasanya yang kasar, cara berpakaiannya yang -jujur saja- membuat anda malu, atau tingkah lakunya yang kadang tidak sopan. Jika ya, anda harus mempertimbangkannya baik-baik.

5. Bagaimana ia pada keluarganya. Bagaimana ia memperlakukan keluarganya dan bagaimana ia berhubungan dengan saudara-saudaranya adalah hal penting yang disimak. Peringatan besar muncul jika orang yang anda sukai suka memusuhi adiknya sendiri atau kasar pada orang tuanya.

6. Sadari pengaruh kehadirannya pada kerohanian anda. Ini poin yang paling penting. Sebelum anda dan dia memulai hubungan yang lebih serius, anda harus mulai bisa menilai dari berbagai segi, apakah kehadiran orang istimewa anda itu memberi pengaruh baik bagi sisi rohani anda atau tidak. Apakah kehadirannya membuat anda rajin berdoa atau malah jadi malas berdoa sama sekali? Apakah bersamanya membuat anda jadi jatuh dalam dosa atau tidak? Poin utamanya ialah, bersama dengan dirinya harus membuat hidup rohani anda naik dan bukan turun. Jika bersama dengannya membuat rohani anda menjadi lemah, tinggalkan saja angan untuk bersamanya.

7. Bayangkan yang jauh kedepan. Maksudnya, anda harus mulai punya bayangan sebuah pernikahan dengan dirinya. Jika membayangkan untuk menjadi istri/suami nya saja membuat anda merasa aneh, jangan lanjutkan. Bayangkan juga apakah ia bisa menjadi ayah/ibu yang baik bagi anak-anak anda nanti. Kalau sikap dan karakternya sangat meragukan untuk itu, berarti ini sebuah lampu merah untuk anda.

8. Orang lain harus dihargai. Pendapat orang tua, pendapat sahabat, pendapat pimpinan, harus anda dengarkan. Biasanya mereka yang sudah "buta oleh cinta" tidak bisa melihat segala sesuatu dengan objektif. Karena itu pendapat orang penting dipertimbangkan. Jika semua orang terdekat anda berkata tidak, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan kembali keputusan anda.

Jika hampir semua dari 8 hal sederhana diatas mengarah ke sesuatu yang negatif tentang orang yang anda sukai tersebut, mengapa anda harus pusing lagi? Masyarakat boleh menyebarkan kebohongan bahwa "anda harus punya pacar!!". Padahal tidak. Begitu banyak perceraian yang terjadi karena kebohongan ini.

Mereka memaksakan diri berpacaran dengan orang yang salah hanya karena ingin punya pacar dan akhirnya menikahi orang salah itu. Dan penyesalan hanya datang terakhir: "andai aku lebih berhati-hati waktu pacaran dulu". Karena itu, tidak ada salahnya bagi anda untuk MENUNGGU sampai orang yang terbaik untuk anda dari Tuhan, tiba.

2 Kornintus 6:14
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?


Taken from : Cloves Community (by:GF)
http://bit.ly/gCBqwE



CINTA YANG MEMBANGUN

Cinta yang membangun tidak berjalan meraba-raba dalam ekbutaan. Kita tahu apa yang benar dan apa yagn salah; kita tidak bisa membedakan antara apa yang baik dan apa yang jahat. Sebaliknya, dalam cinta yang menghancurkan, kita tidak dapat membedakan keduanya. Semua diukur dari sudut kepentingan, selama kepentingan terpenuhi, maka semuanya menjadi benar dan baik. Tidak demikian dengan cinta yang membangun. Kita tahu benar- salah dan baik buruk: mana yang menjadi kehendak Tuhan dan mana yang tidak berkenan di hati Tuhan. Tidak peduli berapa besarnya cinta, kita tetap berpijak pada kebenaran. Kendati kita diuntungkan, jika ia salah, maka ia tetap salah.

Cinta yang membangun mempertimbangkan kepentingan orang yang kita kasihi sehingga kita tidak mau berbuat semaunya dan tidak bersedia mengeruk keuntungan di atas kerugian orang. Kita berhati-hati dengan diri sendiri sebab kita menyadari bahwa kita pun berpotensi menginjak kepentingan orang guna memperoleh apa yang kita inginkan. Kita tidak membiarkan kecenderungan ini berkembang biak sebab kita tahu, sekali kita lepaskan, maka selamanya kita terjerat dalam hubungan yang tidak adil.

MELINDUNGI

Firman Tuhan menegaskan bahwa kasih menutupi segala sesuatu. Kata “menutupi” di sini bermakna “melindungi”. Jadi firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih melindungi segala sesuatu. Pertanyaannya adalah, apakah yang dilindungi oleh kasih ? cinta kasih melindungi orang yang dikasihi dan hubungan kasih itu sendiri.

Cinta yang membangun adalah cinta yangmelindungi hubungan kasih itu sendiri. Banyak orang dapat memulai hubungan kasih, namun sayangnya tidak terlalu banyak yang bisa melindungi-nya. Dengan berjalannya waktu, kita semakin sembarangan dan tidak menghargai hubungan itu. Kita mulai menyia-nyiakannya sebab kita beranggapan bahwa hubungan itu akan tetap kuat. Kita tidak merawatnya dan membiarkannya sendirian.

Sama seperti tanaman, hubungan kasih juga memerlukan perawatan. Tanpa perawatan sebuah hubungan akan mati atau bertumbuh liar, tidak terurus. Saya telah melihat begitu banyak hubungan nikah yang pada akhirnya kering dan rusak karena tidak cukup dirawat. Pertengkaran berlimpah ruah sebab segala sesuatu berkembang menjadi kesalahpahaman, bak tanaman yang bertumbuh liar. Sebagian hubungan, bak dahan yang kering karena tidak mendapat siraman perhatian, akhirnya mudah terbakar dan patah. Masalah sekecil apa pun cukup kuat untuk menyulut api kemarahan dan membuat sebuah hubungan rapuh dan layu. Itu sebabnya sebuah hubungan perlu dilindungi agar tidak kering dan mati.

Cinta yang membangun melindungi orang yang kita kasihi. Kita menjaganya darihinaan atau cercaan orang. Kita menlindunginya dari bahaya yang mengintip, kita melindunginya sebab kita mengasihinya. Kita tidak ingin melihat hal yang buruk terjadi padanya, oleh sebab itu kita memagarinya baik-baik. Bak permata, kita menyayangi dan memperlakukannya dengan penghargaan yang dalam.

MEMPERCAYAI

Firman Tuhan mengatakan bahwa kasih selalu mempercayai. Tuhan tahu bahwa kita tidak selalu berhasil menepati janji, namun dia selalu percaya kepada kita. Sewaktu kita datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia selalu siap menerima dan memberi kepercayaan kembali kepada kita. Inilah kasih dan seperti inilah seharusnya kita mengasihi.

Kasih tidak dapat bersanding dengan kecurigaan. Begitu kita kehilangan kepercayaan, maka kita kehilangan kasih. Itu sebabnya kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan bila kita tidak mempercayai-Nya; sebaliknya, kita tidak bisa mengklaim bahwa kita percaya kepada-Nya jika kita tidak mengasihi-Nya. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama.

Cinta yang membangun adalah cinta yang mempercayai orang yang kita kasihi. Kita percaya akan kejujurannya, ketulusannya, kesetiaannya, dan kasihnya kepada kita. Cinta yang mempercayai berangkat dari kacamata yang positif, bukan negatif. Kita tidak sembarangan menuduh karena kita berangkat dari percaya dan kepercayaan dalam membangun hubungan. Tatkala kita dipercaya, kita merasa berharga dan sebagai balasan, kita semakin ingin dipercaya dan semakin bersemangat dalam melakukan hal-hal yang positif. Alhasil, hubungan bertambah kuat dan cinta pun semakin berakar.

Cinta yang menghancurkan berangkat dari kecurigaan karena memaksa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Itu sebabnya cinta yang menghancurkan selalu berlatar kecurigaan karena di dalamnya terkandung sebuah ketakutan. Kita takut kehilangan orang yang dapat membuat kita bahagia; kita takut dikhianati dan dilukai; kita takut kehilangan makna hidup bila ia pergi meninggalkan kita.

Karena takut maka kita berjaga-jaga dan isi dari berjaga-jaga adalah kecurigaan. Itu sebabnya dalam cinta yang menghancurkan kita tidak pernah mengalami kemerdekaan sejati. Ia selalu mengawasi dan menjaga kita; ia senantiasa mencurigai kita sebab kecurigaan adalah alat untuk memantau perbuatan kita. Ketakutan melahirkan kecurigaan dan pada akhirnyakecurigaan menghancurkan hubungan cinta.

BERHARAP

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih selalu berharap. Oleh karena Tuhan mengasihi kita, maka Dia selalu berharap bahwa kita akan menyambut uluran tangan-Nya. Itulah sebabnya dia tidak pernah berhenti memanggil kita, orang yang berdosa

Cinta yang membangun adalah cinta yang berisikan harapan karena di dalam cinta yagn membangun selalu tersedia keinginan untuk melihat perubahan dan pembaruan pada diri orangyang kita kasihi. Kita menyadari segala kelemahan dan ketidaksempurnaannya, namun kita terus berkeinginan untuk melihatnya dalam kondisi yang lebih baik. Saya teringat Monika, ibunda dari Agustinus, salah seoragn teolog Kristen yang berpengaruh. Kendati sebelum pertobatannya Agustinus hidup bergelimang dalam dosa, namun Monika tidak pernah berhenti berdoa untuk putranya. Monika berdoa sebab ia berharap dan pada akhirnya doanya dikabulkan oleh Tuhan. Agustinus bertobat dan menjadi seorang manusia yang baru. Itulah cinta yang membangun: cinta yang ingin melihat diri yang terbaik pada orang yang kita cintai.

Cinta yang membangun tidak mudah kehilangan harapan sebab dasarnya dalam dan kuat. Dasar cinta yang membangun aalah memberi dan berkorban; itulah sebabnya cinta yang membangun tidak mudah goyah meski angin mengguncangnya. Cinta yang menghancurkan tidak memiliki fondasi yang dalam dan kuat karena dasarnya adalah kebahagiaan pribadi, bukan memberi dan berkorban. Dengan kata lain, cinta yang menghancurkan mudah patah sebab isinya adalah menerima; tatkala tidak ada lagi yang diterima, maka pupuslah harapan. Sebaliknya, di dalam memberi selalu ada kekuatan karena tanpa menerimapun, kita tetap dapat memberi

Tuhan dapat berharap karena Dia tidak tergantung oleh perbuatan kita. Dia terus memberi karena pemberian-Nya tidak didasarkan atas apa yang diterimaNya dari kita. Kendati menerima sedikit atau bahkan tidak sama sekali, Dia tetap memberi. Kekuatan-Nya untuk memberi berasal dari kasih-Nya yang tidak terbatas. Jika kita memiliki kasih yang membangun, kita tidak bergantung pada penerimaan. Meski menerima sedikit, kita tetap dapat menerima banyak.

Cinta yang membangun melihat bagian terbaik dari orang yagn kita kasihi; sebaliknya, cinta yang menghancurkan hanya melihat bagian terbaik dari diri kita sendiri. Kita luput melihat pasangan kita, apalagi bagian terbaiknya, karena terlalu sibuk melihat diri sendiri. Harapan dalam cinta yang menghancurkan hanyalah berisikan pertanyaan, “Apa yang dapat kauberikan kepadaku?” Di dalam cinta yang membangun harapan berisikan jawaban, “Kau sudah memberikannya kepadaku.”

BERSEDIA MENDERITA UNTUK DIA

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih sabar menanggung segala sesuatu Dengan kata lain, di dalam kasih ada ketabahan dan ketangguhan. Tuhan Yesus telah membuktikan Kaasih-Nya melalui penderitaan-Nya di atas kayu salib. Dia tabah dan terus bertahan dalam kesakitan-Nya sebab Dia mengasihi kita. Kasih membuat-Nya kuat dan tangguh, bahkan dalam kesengsaraan yagn amat sangat.

Cinta yang menghancurkan tidak sabar menanggung kesakitan sebab tuuannya hanyalah satu yakni kenikmatan. Begitu kenikmatan berhenti, maka berhenti pulalah cinta. Selama cinta masih memberi kepuasan, selama itu pulalah hubungan berlangsung. Begitu hubungan tidak lagi berbuah manis, dengan cepat kita bergegas menebang pohon hubungan cinta. Itulah akhir dari cinta yang menghancurkan.

Sebaliknya, cinta yang membangun tahan dan tangguh sebab tujuan akhir cinta tidak pernah berupa kepuasan dan kenikmatan pribadi. Kita mencintai karena ingin memberi dan di dalam memberi kita menemukan kekuatan untuk bertahan. Mungkin ia tidak seindah dahulu, tidak sekuat dahulu, tidak sesukses dahulu, tidak semuda dahulu, tidak memuaskan seperti dahulu, namun ia adalah orang yang kita cintai. Kepadanya kita telah berkomitmen untuk memberi apa yang terbaik dan melihat apa yang terbaik pada dirinya. Kita bersedia berkorban dan tidak memperoleh apa yang kita dambakan sebab kita tahu bahwa kita ada di dalam hubungan ini untuk memberi, bukan menerima.

Tuhan yesus berkata bahwa Dia datang untuk melayani bukan untuk dilayani, bahkan untuk memberkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28). Itu sebabnya Dia kuat menanggung segala sesuatu. Dia masuk ke dalam hubungan dengan manusia berdasarkan satu tujuan yang jelas untuk melayuani. Pada waktu kita mulai bepikir bahwa kita datang untuk mendapatkan, pada saat itu pulalah kita dan cita mulai melemah. Cinta yang membangun adalah cinta yang kuat karena datang untuk melayani bukan untuk dilayani.



CINTA YANG MEMBANGUN

Cinta yang membangun tidak berjalan meraba-raba dalam ekbutaan. Kita tahu apa yang benar dan apa yagn salah; kita tidak bisa membedakan antara apa yang baik dan apa yang jahat. Sebaliknya, dalam cinta yang menghancurkan, kita tidak dapat membedakan keduanya. Semua diukur dari sudut kepentingan, selama kepentingan terpenuhi, maka semuanya menjadi benar dan baik. Tidak demikian dengan cinta yang membangun. Kita tahu benar- salah dan baik buruk: mana yang menjadi kehendak Tuhan dan mana yang tidak berkenan di hati Tuhan. Tidak peduli berapa besarnya cinta, kita tetap berpijak pada kebenaran. Kendati kita diuntungkan, jika ia salah, maka ia tetap salah.

Cinta yang membangun mempertimbangkan kepentingan orang yang kita kasihi sehingga kita tidak mau berbuat semaunya dan tidak bersedia mengeruk keuntungan di atas kerugian orang. Kita berhati-hati dengan diri sendiri sebab kita menyadari bahwa kita pun berpotensi menginjak kepentingan orang guna memperoleh apa yang kita inginkan. Kita tidak membiarkan kecenderungan ini berkembang biak sebab kita tahu, sekali kita lepaskan, maka selamanya kita terjerat dalam hubungan yang tidak adil.

MELINDUNGI

Firman Tuhan menegaskan bahwa kasih menutupi segala sesuatu. Kata “menutupi” di sini bermakna “melindungi”. Jadi firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih melindungi segala sesuatu. Pertanyaannya adalah, apakah yang dilindungi oleh kasih ? cinta kasih melindungi orang yang dikasihi dan hubungan kasih itu sendiri.

Cinta yang membangun adalah cinta yangmelindungi hubungan kasih itu sendiri. Banyak orang dapat memulai hubungan kasih, namun sayangnya tidak terlalu banyak yang bisa melindungi-nya. Dengan berjalannya waktu, kita semakin sembarangan dan tidak menghargai hubungan itu. Kita mulai menyia-nyiakannya sebab kita beranggapan bahwa hubungan itu akan tetap kuat. Kita tidak merawatnya dan membiarkannya sendirian.

Sama seperti tanaman, hubungan kasih juga memerlukan perawatan. Tanpa perawatan sebuah hubungan akan mati atau bertumbuh liar, tidak terurus. Saya telah melihat begitu banyak hubungan nikah yang pada akhirnya kering dan rusak karena tidak cukup dirawat. Pertengkaran berlimpah ruah sebab segala sesuatu berkembang menjadi kesalahpahaman, bak tanaman yang bertumbuh liar. Sebagian hubungan, bak dahan yang kering karena tidak mendapat siraman perhatian, akhirnya mudah terbakar dan patah. Masalah sekecil apa pun cukup kuat untuk menyulut api kemarahan dan membuat sebuah hubungan rapuh dan layu. Itu sebabnya sebuah hubungan perlu dilindungi agar tidak kering dan mati.

Cinta yang membangun melindungi orang yang kita kasihi. Kita menjaganya darihinaan atau cercaan orang. Kita menlindunginya dari bahaya yang mengintip, kita melindunginya sebab kita mengasihinya. Kita tidak ingin melihat hal yang buruk terjadi padanya, oleh sebab itu kita memagarinya baik-baik. Bak permata, kita menyayangi dan memperlakukannya dengan penghargaan yang dalam.

MEMPERCAYAI

Firman Tuhan mengatakan bahwa kasih selalu mempercayai. Tuhan tahu bahwa kita tidak selalu berhasil menepati janji, namun dia selalu percaya kepada kita. Sewaktu kita datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia selalu siap menerima dan memberi kepercayaan kembali kepada kita. Inilah kasih dan seperti inilah seharusnya kita mengasihi.

Kasih tidak dapat bersanding dengan kecurigaan. Begitu kita kehilangan kepercayaan, maka kita kehilangan kasih. Itu sebabnya kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan bila kita tidak mempercayai-Nya; sebaliknya, kita tidak bisa mengklaim bahwa kita percaya kepada-Nya jika kita tidak mengasihi-Nya. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama.

Cinta yang membangun adalah cinta yang mempercayai orang yang kita kasihi. Kita percaya akan kejujurannya, ketulusannya, kesetiaannya, dan kasihnya kepada kita. Cinta yang mempercayai berangkat dari kacamata yang positif, bukan negatif. Kita tidak sembarangan menuduh karena kita berangkat dari percaya dan kepercayaan dalam membangun hubungan. Tatkala kita dipercaya, kita merasa berharga dan sebagai balasan, kita semakin ingin dipercaya dan semakin bersemangat dalam melakukan hal-hal yang positif. Alhasil, hubungan bertambah kuat dan cinta pun semakin berakar.

Cinta yang menghancurkan berangkat dari kecurigaan karena memaksa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Itu sebabnya cinta yang menghancurkan selalu berlatar kecurigaan karena di dalamnya terkandung sebuah ketakutan. Kita takut kehilangan orang yang dapat membuat kita bahagia; kita takut dikhianati dan dilukai; kita takut kehilangan makna hidup bila ia pergi meninggalkan kita.

Karena takut maka kita berjaga-jaga dan isi dari berjaga-jaga adalah kecurigaan. Itu sebabnya dalam cinta yang menghancurkan kita tidak pernah mengalami kemerdekaan sejati. Ia selalu mengawasi dan menjaga kita; ia senantiasa mencurigai kita sebab kecurigaan adalah alat untuk memantau perbuatan kita. Ketakutan melahirkan kecurigaan dan pada akhirnyakecurigaan menghancurkan hubungan cinta.

BERHARAP

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih selalu berharap. Oleh karena Tuhan mengasihi kita, maka Dia selalu berharap bahwa kita akan menyambut uluran tangan-Nya. Itulah sebabnya dia tidak pernah berhenti memanggil kita, orang yang berdosa

Cinta yang membangun adalah cinta yang berisikan harapan karena di dalam cinta yagn membangun selalu tersedia keinginan untuk melihat perubahan dan pembaruan pada diri orangyang kita kasihi. Kita menyadari segala kelemahan dan ketidaksempurnaannya, namun kita terus berkeinginan untuk melihatnya dalam kondisi yang lebih baik. Saya teringat Monika, ibunda dari Agustinus, salah seoragn teolog Kristen yang berpengaruh. Kendati sebelum pertobatannya Agustinus hidup bergelimang dalam dosa, namun Monika tidak pernah berhenti berdoa untuk putranya. Monika berdoa sebab ia berharap dan pada akhirnya doanya dikabulkan oleh Tuhan. Agustinus bertobat dan menjadi seorang manusia yang baru. Itulah cinta yang membangun: cinta yang ingin melihat diri yang terbaik pada orang yang kita cintai.

Cinta yang membangun tidak mudah kehilangan harapan sebab dasarnya dalam dan kuat. Dasar cinta yang membangun aalah memberi dan berkorban; itulah sebabnya cinta yang membangun tidak mudah goyah meski angin mengguncangnya. Cinta yang menghancurkan tidak memiliki fondasi yang dalam dan kuat karena dasarnya adalah kebahagiaan pribadi, bukan memberi dan berkorban. Dengan kata lain, cinta yang menghancurkan mudah patah sebab isinya adalah menerima; tatkala tidak ada lagi yang diterima, maka pupuslah harapan. Sebaliknya, di dalam memberi selalu ada kekuatan karena tanpa menerimapun, kita tetap dapat memberi

Tuhan dapat berharap karena Dia tidak tergantung oleh perbuatan kita. Dia terus memberi karena pemberian-Nya tidak didasarkan atas apa yang diterimaNya dari kita. Kendati menerima sedikit atau bahkan tidak sama sekali, Dia tetap memberi. Kekuatan-Nya untuk memberi berasal dari kasih-Nya yang tidak terbatas. Jika kita memiliki kasih yang membangun, kita tidak bergantung pada penerimaan. Meski menerima sedikit, kita tetap dapat menerima banyak.

Cinta yang membangun melihat bagian terbaik dari orang yagn kita kasihi; sebaliknya, cinta yang menghancurkan hanya melihat bagian terbaik dari diri kita sendiri. Kita luput melihat pasangan kita, apalagi bagian terbaiknya, karena terlalu sibuk melihat diri sendiri. Harapan dalam cinta yang menghancurkan hanyalah berisikan pertanyaan, “Apa yang dapat kauberikan kepadaku?” Di dalam cinta yang membangun harapan berisikan jawaban, “Kau sudah memberikannya kepadaku.”

BERSEDIA MENDERITA UNTUK DIA

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih sabar menanggung segala sesuatu Dengan kata lain, di dalam kasih ada ketabahan dan ketangguhan. Tuhan Yesus telah membuktikan Kaasih-Nya melalui penderitaan-Nya di atas kayu salib. Dia tabah dan terus bertahan dalam kesakitan-Nya sebab Dia mengasihi kita. Kasih membuat-Nya kuat dan tangguh, bahkan dalam kesengsaraan yagn amat sangat.

Cinta yang menghancurkan tidak sabar menanggung kesakitan sebab tuuannya hanyalah satu yakni kenikmatan. Begitu kenikmatan berhenti, maka berhenti pulalah cinta. Selama cinta masih memberi kepuasan, selama itu pulalah hubungan berlangsung. Begitu hubungan tidak lagi berbuah manis, dengan cepat kita bergegas menebang pohon hubungan cinta. Itulah akhir dari cinta yang menghancurkan.

Sebaliknya, cinta yang membangun tahan dan tangguh sebab tujuan akhir cinta tidak pernah berupa kepuasan dan kenikmatan pribadi. Kita mencintai karena ingin memberi dan di dalam memberi kita menemukan kekuatan untuk bertahan. Mungkin ia tidak seindah dahulu, tidak sekuat dahulu, tidak sesukses dahulu, tidak semuda dahulu, tidak memuaskan seperti dahulu, namun ia adalah orang yang kita cintai. Kepadanya kita telah berkomitmen untuk memberi apa yang terbaik dan melihat apa yang terbaik pada dirinya. Kita bersedia berkorban dan tidak memperoleh apa yang kita dambakan sebab kita tahu bahwa kita ada di dalam hubungan ini untuk memberi, bukan menerima.

Tuhan yesus berkata bahwa Dia datang untuk melayani bukan untuk dilayani, bahkan untuk memberkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28). Itu sebabnya Dia kuat menanggung segala sesuatu. Dia masuk ke dalam hubungan dengan manusia berdasarkan satu tujuan yang jelas untuk melayuani. Pada waktu kita mulai bepikir bahwa kita datang untuk mendapatkan, pada saat itu pulalah kita dan cita mulai melemah. Cinta yang membangun adalah cinta yang kuat karena datang untuk melayani bukan untuk dilayani.



KASIH SEJATI - CINTA MENGHANCURKAN ATAU MEMBANGUN

Satu emosi yang akan mengaliri seantero pembuluh darah tatkala kita tengah berpacaran adalah cinta. Kita mencintai dan dicintai! Saya harus akui bahwa saat-saat mencintai dan dicintai adalah sebuah keberadaan yang luar biasa menggetarkan. Pada momen cinta inilah kita mulai merancang masa depan dan merajut hubungan yang akan berlanjut sampai puluhan tahun mendatang. Kita membuat keputusan yang akan menentukan arah dan kualitas hidup bersamanya.

Hampir semua orang bisa mencintai, namun yang membedakan antara cinta yang satu dengan yang lainnya adalah bagaimana kita mencintai. Tatkala kita meneropong cinta dari kacamata bagaimana, barulah kita menyadari bahwa ternyata tidak semua “cinta” adalah sama. Kendati namanya dan rasanya sama, tetapi isinya tidak sama. Bagaimana seseorang mencintai sebenarnya menyingkapkan seiapakah orang itu, “apakah nilai hidupnya ?” “Bagaimanakah ia memperlakukan sesamanya?” “Apakah yang menjadi kebutuhan pokoknya?” “Seberapa dewasanyakah ia?” Semua pertanyaan in itermaktub dalam satu pertanyaan, “Bagaimanakah ia mencintai?” Jadi, sudah selayaknyalah kita mencari tahu bagaimanakah ia mencintai sebelum kita mengambil keputusan yang akan begitu mempengaruhi kehidupan kita kelak.

Saya kira kita perlu memahami cinta, terutama kita yang tengah jatuh cinta dan siap untuk memulai hubungan romantis dengan seseorang. Kadang kala kita terlalu cepat terbuai oleh kata “cinta” dan begitu mendengarnya kita beranggapan seakan0-akan segalanya akan menjadi baik dan beres. Bagi sebagian kita, cinta berarti “murni” dan “memurnikan” segalanya, baik itu motivasi maupun tindakan. Kita perlumenyadari bahwa kata “cinta” dapat menyembunyikan bahwa hal yang tidak lurus dan tidak sehat. Ingatlah bahwa yang terpenting bukanlah perkataannya, melainkan bukti nyatanya dan bukti dapat kita pantau melalui cara bagaimana ia menunjukkan cintanya.

Pada dasarnya cinta dapat dibagi dalam dua golongan besar: (a) cinta yang menghancurkan, dan (b) cinta yang membangun. Di atas permukaan keduanya tampak serupa, tetapi di dalamnya keduanya bagaikan langit dan bumi. Marilah kita melihat ciri masing-masing cinta agar dapat cepat dan tepat membedakannya.

CINTA YANG MENGHANCURKAN

Salah satu cerita yang mengenaskan yang dicatat di dalam alkitab adalah kisah perkosaan Tamar yang dilakukan oleh kakak tirinya sendiri, Amnon. Ada dua alasan mengapa peristiwa ini begitu mengenaskan. Pertama, keduanya adalah kakak beradik, anak Raja Daud dengan ibu yang berbeda. Dapat kita bayangkan betapa sakitnya hati Tamar diperkosa oleh kakaknya sendiri di saat ia datang untuk merawat Amnon yang (berpura-pura0 sakit. Kedua, sebelum memperkosa, Amnon diamuk cinta yang sangat besar terhadap Tamar, namun setelah ia selesai memperkosanya, cintanya lenyap, “bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya” (2 Sam 13:15). Pada akhirnya Amnon malah mengusir Tamar secara kasar dan tidak pantas, bak seorang tuan mengusir anjing yang tidak ingin dilihatnya lagi. Cinta berganti benci dalam sekejap !

Menurut saya, cinta yang dimiliki amnon adalah cinta yang menghancurkan. Cinta jenis ini muncul secara tiba-tiba dan dalam kekuatan yang sangat besar. Kita sering terkecoh olehnya sebab cinta jenis ini begitu kuatnya bersarang di hati sehingga membuat pikiran dan seantero jiwa tersedot olehnya, Setiap hari yang ada di benak kitta hanyalah dia yang kita cintai; kita benar-benar terobsesi olehnya. Masalahnya adalah cinta jenisini adalah cinta yang menghancurkan karena pusat dari cinta ini adalah kepentingan dan kepuasan sendiri. Nanti akan saya jelaskan mengapa saya menyebutnya “menghancurkan”, namun sekarang marilah kita lihat dua ciri utama cinta jenis ini terlebih dahulu

MENGUASAI

Ini adalah ciri utama cinta yang menghancurkan. Pada dasarnya orang yang memiliki cinta yang menghancurkan adalah orang yang tidak memberi ruang gerak kepada orang yang dicintainya untuk menjadi apa adanya. Jika kita menjadi objek cintanya, maka satu hal yang pasti adalah kita kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginan dan seleranya sebab jika tidak, apa pun yang kita lakukan akan menjadi salah di matanya.

Dalam hubungan seperti ini kita sering dibuat menjadi serba salahh. Jika kita terus menuruti permintaannya, kita menderita, tetapi bila kita menolak permintaannya, ia menyalahkan dan menuduh bahwa kita tidak lagi mencintainya. Dalam kasus yang lebih buruk, tuduhan itu berlanjut dengan paksaan emosional maupun fisik. Dengan kata lain, ia marah dan mencaci maki kita atau ia tidak segan-0segan memukul kita. Cinta yang menghancurkan tidak mengenal kompromi dan mengalah sebab pusatnya adalah diri sendiri. Semakin hari kita semakin merasa tersedot dan kehabisan energi karena selalu ada saja tuntutan yang baru darinya. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah berhasil memuaskan hasratnya secara tuntas.

MANIPULATIF

Ciri selanjutnya dari cinta yang menghancurkan adalah manipulatif. Sesungguhnya,manipulasi adalah paksaan dengan menggjunakan ancaman, namun semua ini dilakukan dengan halus, begitu halusnya seingga kita tidak merasa bahwa sesungguhnya ia tengah memaksa lewat ancaman. Misalnya, ada orang yang berniat untuk bunuh diri jika cintanya di tolak. Memang ancaman ini bukanlah ancaman terhadap diri kita, namun bukankah isi dari ancaman ini tetap untuk kita? Atau, ada orang yang mengungkapkan bahwa jika ia tidak bersama kita, ia tidak akan menikah untuk selamanya. Sekali lagi, memang ancaman in tidak tertuju secara langsung kepada diri kita, tetapi bukankah sebenarnya secara tidak langsung ia sedang beruusaha menembak kita?

Manipulasi adalah paksaan sebab tujuannya hanyalah satu yaitu kepentingan diri sendiri. Jika kita terlibat dalam hubungan cinta yang seperti ini, satu hal yang pasti adalah pada akhirnya kita kehilangan diri sendiri. Awalnya kita tidak menyadarinya sebab pada mulanya kita merasa sangat dikasihi. Bagaimana tidak ? Setiap hari kita dihujani perhatian dan setiap saat kita bisa mendapatkan cintanya, namun harga yang harus dibayar ternyata sungguhlah mahal. Hubungan ini tidak menyisakan apa pun untuk kita karena semuanya untuk dirinya.

Dalam hubungan ini satu perasaan yang akan terus menghantui adalah rasa bersalah. Manipulasi memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidka ingin kita lakukan, namun jika tidak dilakukan, kita merasa bersalah. Inilah senjata manipulasi yang termapuh yaitu membuat orang merasa bersalah. Manipulasi adalah bahasa jebakan; tanpa kita sadari ia akan terus menggiring kita masuk ke dalam perangkapnya. Sekali masuk, sampai selamanya kita tidak bisa kelaur.

CINTA YANG MEMBANGUN

Firman Tuhan mengajarkan kepada kita tentang apakah cinta dan semuanya diuraikan oleh Rasul paulus di dalam 1 Korinttus 13, terutama di dalam ayat 4-7. Inilah kasih, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Berdasarkan ayat-ayat ini marilah kita lihat beberapa karakteristik dari cinta yang membangun.

PUSAT CINTA ADALAH ORANG YANG DICINTAI

Cinta yang membangun adalah cinta yang berpusatkan pada orang yang dicintai dan inilah yang membedakannya dari cinta yang menghancurkan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kasih itu sabar, murah hati, dan tidak cemburu; tidak memegahkan diri dan tidak sombong; tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Semua ciri ini melukiskan satu karakteristik yakni tidak mementingkan diri sendiri. Kesabaran muncul tatkala kita berhasil mengesampingkan diri dan mementingkan orang yang kita kasihi. Kesabaran bertunas ketika kita menggunakan jadwalnya dan bukan jadwal kita. Sebaliknya, kita tidak akan sabar bila kita memikirkan kepentingan pribadi dan berjalan dengan kecepatan sendiri. Kita tidak akan sabar menunggu dan terus menuntutnya untuk menjadi seperti yang kita harapkan.

Cinta yang membangun memikirkan dan melakukan apa yang baik dan benar baginya. Dengan cinta yang membangun kita menghormati pasangan dan memberinya ruang gerak untuk menjadi dirinya sendiri. Apakah ini berarti bahwa kita sama sekali tidak boleh memberi masukan dan menyampaikan pengharapan kita ? Sudah tentu boleh, namun yang membedakannya dari cinta yang menghancurkan adalah kita tidak memaksanya untuk menjadi seperti yang kita harapkan. Kita memintanya, namun tetap menerima keputusannya.

Firman Tuhan menjelaskan bahwa kasih itu murah hati. Perkataan “murah hati” dapat pula dipahami sebagai “baik hati” dan memang bukankah salah satu petunjuk bahwa seseorang baik hati adalah dari kemurahan hatinya? Sekali lagi, intinya sama yakni cinta yang membangun tidak mementingkan diri sendiri sehingga kesukacitaannya adalah memberi, bukan menuntut

Namun, untuk memastikan bahwa ia sungguh-sungguh baik hati saya menyarankan agar kita mengamatinya dalam skala kehidupan yang lebih luas. Apakah ia baik hati terhadap kita saja, orang yang tengah dicintainya, ataukah ia murah hati terhadap semua orang ? Berhati-hatilah dengan orang yang hanya baik terhadap kita saja, namun kikir dan keras terhadap orang lain. Janganlah kita berbangga hati dan merasa tersanjung berjalan dengannya sebab pada kenyataannya ia bukanlah orangyang murah hati. Kebaikan hatinya kepada kita adalah manipulasinya semata untuk menggiring kita masuk ke dalam pelukannya.

Cinta yang membangun tidak cemburu sebab kecemburuan berasal dari keinginan untuk menguasai. Cinta yang menghancurkan adalah cinta yang menguasai sehingga kita kehabisan napas dankehilangan ruang gerak. Sebaliknya, cinta yang membangun tidak menguasai; cinta yang membangun memberi kemerdekaan dan memanggil kerelaan, bukan keterpaksaan.

Kecemburuan adalah reaksi alamiah dari ketakutan; kita takut kehilangan orang yang kita kasihi. Namun, dalam cinta yang membangun kita tidak menguasainya sebagai jaminan bahwa ia tidak akan meninggalkan kita. Dasar hubungan dalam cinta yang membangun adalah keputusan yang bebas dari ketakutan dan rasa bersalah. Kendati takut kehilangannya, kita tidak menguasai dan memaksanya.

Cinta yang membangun tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tidak ada ruang untuk kesombongan dalam cinta yang membangun sebab perhatian kita tidak tertuju kepada orang yang kita cintai. Bagaimana mungkin kita memegahkan diri sendiri jilkalau hati kita hanya memikirkan kepentingannya? Kesombongan adalah pertanda bahhwa kita mengidolakan diri sendiri dan menuntut pasangan untuk melihat “keindahan”kita. Kita marah tatkala ia gagal melihat “kebaikan” kita; kita kecewa sewaktu ia lupa memuji dan menghargai kita. Sebaliknya, dalam cinta yang membangun kita mengarahkan mata kita pada keindahan dan hal-hal positif pada dirinya. Kita akan terkejutmelihat betapa cepatnya balon kesombongan mengembis tatkala perhatian tertuju pada keindahan pasangan, bukan pada diri sendiri.

Cinta yang membangun tidak melakukan hal-hal yang tidak sopan. Kata “tidak sopan” disini dapat pula dipahami sebagai “kasar”. Jadi dalam cinta yang membangun tidak ada kekasaran sebab isi deari cinta yang membangun adalah hormat. Kekasaran adalah cermin keangkuhan tatkala melihat deiri dan cermin peleehan ketika berhubungan dengan orang lain.

Perkataan “tidak sopann” atau aksar sangat berkaitan erat dengan perkataan :”mencari keuntungan diri sendiri”. Kekasaran adalah wujud frustasi tatkala keuntungan pribadi lepas dari genggaman. Memang dalam hubuungan cinta yang menghancurkan tidak ada rasa hormat. Sebab oran gyang kita cintai hanyalah alat semata untuk memberikan apa yang kita dambakan. rAsa hormat dalam cinta yang menghancurkan hanyalah sebesar keuntungan yang diperoleh. Sebaliknya, dalam cinta yang membangun kita menghormatinya oleh karena ia adalah ciptaan Tuhan. Kita tidak memandangnya dari segi besar kecil keuntungan yang diperolah; kita memandangnya sebagai “teman pewaris dari kasih karunia” (1 Ptr 3:7)

MENGAMPUNI KESALAHAN DAN MENERIMA KELEMAHAN

Firman Tuhan menguraikan bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang. Cinta yang membangun berdiri di atas landasan realitas bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sempurna dan tidak ada satu orang pun yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita kecuali Tuhan sendiri. Oleh sebab itu, dalam cinta yang membangun kita tidak menuntut orang untuk selalu tahu akan kebutuhan kita dan tidak mengharuskannya untuk selalu siap menjawab setiap pertanyaan kita. Di dalam cinta yang membangun kita menerima ketidaksempurnaan hidup dan tidak mengejar orang untuk selalu berpikir dan berbuat “benar”. Itu sebabnya kita dapat menerima kelemahan dan mengampuni kesalahan.

Di dalam cinta yang membangun kita berpijak pada landasan bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Didalam cinta yang membangun kita menyadari bahwa orang mungkin dan dapat melukai kita. Namun, kita bisa menerima luka dan kekecewaan sebagai bagian dari hidup. Kita tidak memandangnya sebagai sesuatu yang “tidak seharusnya;’ terjadi karena kita tahu bahwa kita pun kadang melukai pasangan atau orang yang kita kasihi. Itulah kenyataan hidup di dunia ini.

Di dalam cinta yang membangun kita tidak menyimpan catatan kesalahan psangan. Kita melihat dan tidak menutup mata terhadap kesalahan, namun kita tidak dengan sengaja menyimpan catatannya. Sebaliknya, kita berusaha melupakan apa ang telah terjadi setelah berupaya menyelesaikannya. Di dalam cinta yang membangun kita tidak ingin ingatan buruk bersaarang di dalam benak kita; sebaliknya, justru kita ingin membangun sesuatu yang baru

Di dalam cinta yang menghancurkan kita melihat lawan dari semua ini kita tidak dapat mentoleransi ketidak sempurnaan karena tuntutan kita adalah agar pasangan dapat senantiasa memenuhi kebutuhan kita dan mengerti isi hati kita. Kita tidak dapat menerima kelemahan karena kelemahan berarti kegagalan dalam memenuhi kebutuhan kita. Kita pun tidak mudah melupakan kesalahan sebab kesalahan berarti melukai dan kita tidak bersedia menerima luka, sekecil apa pun. Bagi kita, hubungan harus tanpa cakar sama sekali; sekali tercakar selamanya kita akan mengeluarkannya dari daftar orang yang kita kasihi.